
Komisi C DPRD DIY memantau pembangunan sumur bor di Lanteng 2, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Bantul, Senin (21/9/2026)./Istimewa-Dok. DPRD DIY
Harianjogja.com, JOGJA— Pembangunan sumur bor untuk mengatasi kesulitan air bersih di Lanteng 2, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Bantul, terus dipantau DPRD DIY. Infrastruktur yang dibiayai Dana Keistimewaan (Danais) sekitar Rp488 juta itu diproyeksikan membantu kebutuhan air warga yang terdampak kekeringan.
Monitoring dilakukan Komisi C DPRD DIY pada Senin (21/9/2026). Kunjungan dipimpin Ketua Komisi C DPRD DIY Nur Subiyantoro bersama sejumlah anggota untuk melihat langsung progres pengeboran sekaligus memastikan sumber air mulai keluar.
Nur Subiyantoro mengatakan pembangunan sumur bor tersebut menjadi salah satu bentuk intervensi pemerintah daerah bagi masyarakat yang mengalami kesulitan memperoleh air. Sumber air dari pengeboran saat ini sudah mulai ditemukan dan telah disiapkan tempat penampungannya.
"Kemudian sudah dibuat penampungannya dan nanti ada jaringan menuju resapan air yang akan dikirim untuk memenuhi air tanah bagi kebutuhan warga," ujarnya dalam keterangan resminya, Selasa (22/9/2026).
Diproyeksikan Layani 350 KK
Menurut Nur, sumber air tersebut diproyeksikan dapat membantu sekitar 350 kepala keluarga (KK) di wilayah Lanteng dan sekitarnya. Pembangunan fasilitas serupa juga dilakukan di sejumlah wilayah lain di Bantul, Gunungkidul, dan Kulon Progo.
"Ini bentuk kepedulian Pemerintah DIY melalui alokasi Dana Keistimewaan untuk membantu kesulitan masyarakat ketika suasana kekeringan seperti ini," jelasnya.
Anggota Komisi C DPRD DIY, Aslam Ridlo, menjelaskan anggaran awal sekitar Rp488 juta digunakan untuk membiayai pembangunan sumur, bak penampungan, serta sambungan listrik. Nilai tersebut belum mencakup pembangunan jaringan distribusi air dari penampungan hingga rumah warga.
Atas usulan Dinas PU ESDM DIY, rencananya akan dilakukan adendum untuk menambahkan fasilitas jaringan dari bak penampungan menuju jaringan warga. Tambahan anggaran tersebut diperkirakan sekitar 8% dari nilai awal proyek.
"Sumur ini diperkirakan menghasilkan satu liter per detik dan bisa untuk lebih dari 200 KK. Kami berharap pada 2027 sudah bisa direalisasikan jaringan tersebut," jelasnya.
DPRD DIY Dorong Solusi Pembiayaan
Penanganan kekeringan juga menjadi perhatian Komisi C DPRD DIY. Anggota Komisi C DPRD DIY, Lilik Syaiful Ahmad, mengatakan pembangunan infrastruktur air, termasuk sumur bor, perlu terus didorong terutama untuk wilayah yang belum memiliki akses air memadai.
"Kami akan terus mendorong solusi pembiayaan. Kalau perlu, kami datang ke kementerian atau Komisi V di Senayan untuk mencari solusi."
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase Dinas PU ESDM DIY, Subarjo, memastikan pekerjaan pembangunan sumur bor di Selopamioro berjalan sesuai rencana. Proyek tersebut ditargetkan selesai sebelum batas waktu kontrak pada awal Desember 2026.
"Progres aman, surplus. Insyaallah sebelum berakhirnya waktu, yakni awal Desember 2026, ini bisa selesai. Semoga berhasil dan bisa bermanfaat bagi masyarakat di sekitar Lanteng dan sekitarnya," paparnya.
Dana Keistimewaan untuk Wilayah Sulit Air
Kepala Bidang Urusan Tata Ruang Paniradya Kaistimewan, Gunawan, menjelaskan pembangunan sumur bor menjadi salah satu program penanganan kekeringan yang menggunakan Dana Keistimewaan melalui urusan tata ruang.
Program tersebut diprioritaskan untuk wilayah yang mengalami kesulitan air. Salah satu kriterianya adalah kawasan yang belum terjangkau jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).
"Pembangunan sumur bor memang diprioritaskan untuk daerah-daerah yang kesulitan air. Salah satu kriterianya adalah belum ada jaringan PDAM yang masuk," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































