Bendera Iran.
Harianjogja.com, JAKARTA—Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Iran melontarkan peringatan keras terkait potensi invasi darat Amerika Serikat. Pernyataan ini muncul di tengah laporan rencana operasi militer yang disebut bisa membuka fase baru konflik.
Panglima Angkatan Darat Iran, Amir Hatami, menegaskan tidak ada pasukan musuh yang akan selamat jika operasi darat benar-benar dilakukan ke Teheran. Pernyataan tersebut disiarkan melalui televisi pemerintah IRIB.
“Jika musuh mencoba operasi darat, tidak seorang pun boleh selamat,” ujar Hatami.
Ia menambahkan, seluruh komando operasional telah diperintahkan untuk memantau pergerakan militer Amerika Serikat secara ketat dan menyiapkan respons yang tepat. Langkah ini disebut sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan nasional sekaligus meredam bayang-bayang perang.
Di sisi lain, laporan The Washington Post menyebut Pentagon tengah mempertimbangkan opsi operasi darat di Iran. Ribuan pasukan AS dikabarkan telah dikerahkan ke kawasan Timur Tengah, meski keputusan akhir masih menunggu persetujuan Donald Trump.
Skenario operasi yang dibahas mencakup penargetan Pulau Kharg sebagai pusat ekspor minyak Iran, serta serangan di kawasan pesisir dekat Selat Hormuz untuk mengamankan jalur pelayaran strategis.
Pejabat AS menilai langkah tersebut berpotensi memicu fase konflik yang jauh lebih berbahaya dibandingkan gelombang awal pertempuran. Operasi militer bahkan disebut dapat berlangsung selama beberapa pekan.
Sejak konflik pecah pada akhir Februari, sedikitnya 13 tentara AS dilaporkan tewas dan lebih dari 300 lainnya terluka. Sementara itu, serangan yang melibatkan Iran, Israel, dan sekutunya telah menimbulkan korban besar di berbagai wilayah.
Eskalasi bermula dari serangan Israel dan AS ke Iran pada 28 Februari yang menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Ali Khamenei. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke sejumlah negara, termasuk Israel, Yordania, Irak, serta wilayah Teluk yang menjadi basis militer AS.
Konflik ini tidak hanya berdampak pada korban jiwa dan kerusakan infrastruktur, tetapi juga mulai mengganggu stabilitas pasar global serta jalur penerbangan internasional.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sumber : Antara


















































