Waspada Scam Saat Liburan, Ini 2 Modus yang Sulit Dikenali

3 hours ago 1

Harianjogja.com, JOGJA— Wisatawan kini menghadapi ancaman penipuan yang semakin sulit dikenali karena pelaku tidak selalu menggunakan informasi palsu. Data reservasi hotel yang benar hingga pemberitahuan penerbangan dapat dimanfaatkan untuk membuat pesan penipuan terlihat meyakinkan.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) juga membuat pelaku lebih mudah membuat situs palsu yang menyerupai layanan resmi. Florent Silve, eksekutif platform manajemen perjalanan korporat Engine, mengatakan perubahan teknologi membuat wisatawan perlu lebih berhati-hati ketika menerima informasi perjalanan secara digital.

"Apa yang dulu tampak seperti situs palsu kini menjadi jauh lebih sulit dikenali konsumen," kata Silve, dikutip dari Stuff, Minggu (13/9).

Artinya, wisatawan tidak cukup hanya mengandalkan tampilan situs atau pesan untuk menentukan apakah sebuah informasi benar-benar berasal dari hotel, maskapai, atau penyedia layanan perjalanan.

Kerugian Penipuan Capai US$3,5 Miliar

Gambaran mengenai besarnya ancaman penipuan juga terlihat dari laporan Federal Trade Commission (FTC) yang diterbitkan pada Juni. Warga Amerika Serikat melaporkan kerugian US$3,5 miliar pada tahun sebelumnya akibat penipuan yang dilakukan pelaku dengan menyamar sebagai pihak lain melalui pesan teks, email, telepon, media sosial, dan mesin pencari.

Angka tersebut tidak seluruhnya berkaitan dengan penipuan perjalanan. Namun, hampir satu dari tiga laporan penipuan merupakan kasus pelaku yang menyamar sebagai pihak lain sehingga modus impersonasi menjadi salah satu bentuk penipuan yang paling banyak dilaporkan.

Pakar penipuan dari perusahaan keamanan siber Norton, Iskander Sanchez-Rola, mengatakan penipuan yang menyasar wisatawan bahkan bisa dimulai sebelum perjalanan berlangsung. Pelaku dapat berpura-pura menjadi pihak hotel atau maskapai ketika calon wisatawan memang sedang menunggu informasi mengenai perjalanan mereka.

"Dulu orang berpikir, 'Kalau saya menerima penipuan yang benar-benar tidak masuk akal, itu tandanya penipuan.' Tetapi sekarang, penipuan paling berbahaya justru tidak terlihat mencurigakan; terlihat seperti sesuatu yang memang diharapkan," kata Sanchez-Rola.

Karena itu, pesan yang berisi informasi perjalanan yang benar sekalipun tetap perlu diperiksa melalui kanal resmi sebelum wisatawan melakukan pembayaran atau memberikan informasi pribadi.

Reservasi Hotel Bisa Dibajak untuk Menipu

Salah satu modus yang perlu diperhatikan wisatawan adalah pembajakan reservasi atau reservation hijacking. Pelaku menghubungi calon tamu melalui email atau pesan teks dengan mengaku sebagai pihak hotel.

Pesan tersebut biasanya menyebut adanya kendala pada reservasi, misalnya pembayaran yang gagal, lalu meminta korban segera melakukan tindakan tertentu. Situasi itu dibuat mendesak agar wisatawan tidak sempat memeriksa kembali informasi yang diterimanya.

Yang membuat modus ini berbahaya adalah informasi yang digunakan pelaku bisa saja benar. Sanchez-Rola menjelaskan, pelaku dapat menargetkan sistem hotel melalui praktik phishing terhadap pegawai untuk memperoleh kredensial login.

Setelah mendapatkan akses, pelaku dapat menggunakan informasi yang berasal dari hotel atau layanan pemesanan, termasuk tanggal reservasi dan harga kamar. Informasi tersebut kemudian dimasukkan ke dalam pesan penipuan sehingga korban merasa sedang berkomunikasi dengan pihak yang memang menangani pemesanannya.

"Yang utama adalah ini bukan konfirmasi pemesanan palsu, melainkan reservasi asli yang dipersenjatai untuk melawan Anda," kata Sanchez-Rola.

Wisatawan yang menerima pesan mengenai masalah pembayaran reservasi sebaiknya tidak langsung mengikuti tautan yang disediakan. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menghubungi hotel melalui nomor telepon yang tercantum di situs resmi hotel.

Nomor kontak yang terdapat dalam pesan mencurigakan sebaiknya tidak digunakan karena wisatawan justru dapat terhubung dengan pelaku.

Pesan Penerbangan Batal Juga Bisa Jadi Jebakan

Ancaman lain muncul dalam bentuk pemberitahuan palsu mengenai penerbangan yang dibatalkan atau ditunda. Pelaku biasanya mengirim pesan yang dirancang agar korban merasa harus segera mengambil keputusan.

Setelah mengabarkan penerbangan batal atau mengalami keterlambatan, pelaku dapat menawarkan bantuan untuk melakukan pemesanan ulang dengan meminta biaya tambahan. Kondisi mendesak tersebut menjadi bagian penting dari modus karena korban sedang membutuhkan kepastian mengenai perjalanannya.

Jika menerima pemberitahuan semacam itu, wisatawan sebaiknya tidak langsung panik atau mengklik tautan dalam pesan. Status penerbangan perlu diperiksa melalui situs atau aplikasi resmi maskapai.

Apabila penerbangan memang harus dipesan ulang, proses tersebut sebaiknya dilakukan melalui maskapai atau layanan pemesanan yang sebelumnya digunakan. Dengan begitu, wisatawan tidak menyerahkan proses pembayaran kepada pihak yang identitasnya belum terverifikasi.

Sanchez-Rola juga mengingatkan wisatawan agar tidak mengunggah foto tiket pesawat atau dokumen perjalanan ke media sosial. Menutupi nomor tertentu dengan emoji atau elemen lain belum tentu menghilangkan seluruh informasi yang terdapat dalam gambar.

"Kode QR atau kode batang yang ada di sana memuat banyak informasi," kata Sanchez-Rola.

Jangan Jadikan Tampilan Pesan sebagai Bukti Keaslian

Perubahan modus penipuan membuat wisatawan perlu mengubah kebiasaan ketika menerima informasi perjalanan. Pesan yang terlihat profesional, mencantumkan tanggal perjalanan, atau menyebut nominal pembayaran bukan berarti otomatis berasal dari pihak resmi.

Pemeriksaan melalui kanal resmi menjadi langkah penting sebelum melakukan pembayaran, mengubah reservasi, atau memberikan informasi pribadi. Untuk urusan hotel, wisatawan dapat menghubungi properti melalui kontak yang diperoleh dari situs resminya. Sementara itu, informasi penerbangan dapat diperiksa melalui kanal resmi maskapai.

Wisatawan juga perlu menghindari tautan yang dikirim melalui pesan tidak terduga, terutama ketika pesan tersebut meminta tindakan segera.

Selain itu, dokumen perjalanan dan tiket tidak sebaiknya dipublikasikan sembarangan di media sosial. Informasi yang terlihat sepele dalam sebuah foto dapat menjadi bagian dari data yang dimanfaatkan pelaku untuk membuat penipuan berikutnya terlihat lebih meyakinkan.

Dengan demikian, kewaspadaan selama perjalanan tidak hanya diperlukan ketika wisatawan berada di lokasi tujuan. Tahap sebelum keberangkatan, mulai dari menerima informasi reservasi hingga memeriksa status penerbangan, juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |