Primbon Jawa Sebut Hari Ini, Naas untuk Kamis Legi dan Kamis Pahing

3 hours ago 2

Jumali

Jumali Minggu, 17 Mei 2026 07:17 WIB

Harianjogja.com, JOGJA— Dalam tradisi Primbon Jawa, setiap weton dipercaya memiliki karakter, keberuntungan, hingga hari pantangan tertentu yang perlu diperhatikan. Salah satu yang cukup sering dibahas adalah weton Kamis Legi dan Kamis Pahing yang disebut memiliki hari naas sama, yakni Minggu Wage.

Bagi sebagian masyarakat Jawa, hitungan weton masih digunakan sebagai pedoman sebelum menentukan hari baik untuk pernikahan, membuka usaha, pindah rumah, maupun perjalanan penting. Tujuannya adalah mencari keselarasan energi antara hari kelahiran dengan waktu pelaksanaan kegiatan.

Menurut perhitungan Primbon Jawa, pertemuan energi tertentu dianggap kurang harmonis sehingga diyakini dapat memicu hambatan atau hasil yang tidak maksimal apabila dipaksakan.

Kamis Legi dan Pantangan Minggu Wage

Weton Kamis Legi memiliki jumlah neptu 15, berasal dari nilai hari Kamis sebesar 8 dan pasaran Legi bernilai 7.

Dalam Primbon Jawa, pemilik weton Kamis Legi disebut memiliki beberapa hari yang sebaiknya dihindari, yaitu:

  • Kamis Legi
  • Minggu Pahing
  • Minggu Wage

Minggu Wage dipercaya menjadi salah satu hari paling sensitif bagi pemilik weton ini. Karena itu, banyak orang tua Jawa menyarankan agar acara besar seperti pernikahan, pembukaan usaha, atau perjalanan penting tidak dilakukan pada hari tersebut.

Kamis Pahing dan Hari Naasnya

Sementara itu, weton Kamis Pahing memiliki neptu lebih besar, yakni 17. Nilai tersebut berasal dari Kamis sebesar 8 dan Pahing bernilai 9.

Dalam tradisi Primbon, weton ini dikenal memiliki sifat pekerja keras, ambisius, dan tegas. Namun, terdapat sejumlah hari yang dianggap kurang baik, yaitu:

  • Kamis Pahing
  • Minggu Wage
  • Minggu Kliwon
  • Sabtu Pon

Dari beberapa hari tersebut, Minggu Wage kembali muncul sebagai salah satu pantangan utama yang dipercaya kurang selaras dengan energi weton Kamis Pahing.

Hal yang Diyakini Sebaiknya Dihindari

Kepercayaan mengenai hari naas umumnya tidak dimaknai sebagai larangan mutlak untuk beraktivitas. Namun, masyarakat Jawa tradisional biasanya menghindari momen penting pada hari tersebut.

Beberapa kegiatan yang kerap disarankan untuk ditunda antara lain:

  • Pernikahan atau lamaran
  • Membuka usaha atau investasi besar
  • Pindah rumah
  • Perjalanan jauh untuk urusan penting

Masyarakat percaya langkah besar yang dilakukan pada hari kurang baik berpotensi menghadapi hambatan, perselisihan, atau hasil yang tidak sesuai harapan.

Filosofi Primbon Jawa

Dalam pandangan budaya Jawa, konsep hari baik dan hari naas berkaitan dengan upaya menjaga harmoni antara manusia dan alam semesta. Primbon dipandang sebagai bentuk kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun untuk membantu menentukan waktu yang dianggap lebih selaras.

Meski demikian, banyak masyarakat modern kini memandang hitungan weton sebagai bagian dari tradisi budaya, bukan sesuatu yang bersifat mutlak.

Karena itu, apabila ada keadaan mendesak yang membuat seseorang tetap harus melaksanakan kegiatan pada hari pantangan, masyarakat Jawa biasanya menyarankan memperbanyak doa, sedekah, dan tirakat sebagai bentuk ikhtiar spiritual.

Pada akhirnya, kepercayaan terhadap weton dan Primbon Jawa kembali menjadi pilihan masing-masing individu dalam menyikapi tradisi dan budaya leluhur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |