Jakarta (ANTARA) - Pergantian tahun baru Masehi umumnya dipersepsikan sebagai momen perayaan yang ditandai dengan pesta kembang api, aktivitas begadang, serta berbagai bentuk kemeriahan.
Namun bagi seorang Muslim, pergantian waktu tersebut dapat dipandang sebagai momentum yang lebih bermakna, tidak terbatas pada perayaan simbolik semata. Pergantian tahun dapat dijadikan kesempatan untuk melakukan introspeksi diri, menata kembali niat, serta merancang langkah kehidupan yang lebih bermakna ke depan.
Dengan mengarahkan perayaan tahun baru pada kegiatan yang positif dan bernilai ibadah, momen ini dapat dilalui secara lebih khidmat, produktif, dan selaras dengan prinsip-prinsip ajaran Islam.
Berikut pandangan Islam dalam merayakan Tahun Baru Masehi, dan sikap yang sebaiknya dilakukan umat Muslim dalam pergantian Tahun Masehi jelang berakhirnya tahun 2025 ke tahun 2026, berdasarkan informasi yang telah dihimpun dari berbagai sumber.
Pandangan Islam terhadap perayaan Tahun Baru Masehi
Telah menjadi pengetahuan umum bahwa perayaan tahun baru Masehi bukan bagian dari tradisi maupun kebudayaan Islam. Tradisi tersebut berasal dari budaya masyarakat non-Muslim dan tidak memiliki dasar dalam ajaran Islam.
Oleh karena itu, Rasulullah SAW telah mengajarkan umatnya untuk meninggalkan dan menjauhi berbagai bentuk perayaan, khususnya perayaan yang bersifat rutin setiap tahun, apabila berasal dari tradisi kaum non-Muslim.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu. Ia menuturkan bahwa ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, penduduk setempat memiliki dua hari khusus yang biasa mereka gunakan untuk bersenang-senang.
Rasulullah kemudian bertanya, “Dua hari apakah ini?” Mereka menjawab, “Dua hari yang dahulu kami gunakan untuk bermain-main pada masa Jahiliyyah.” Maka Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan Idul Fitri.” (HR. Abu Dawud)
Hadits ini menegaskan bahwa Islam telah menetapkan hari raya tersendiri bagi umatnya, sehingga tidak diperlukan lagi mengambil atau meniru perayaan dari tradisi lain.
Isyarat Al-Quran tentang sikap seorang mukmin
Al-Quran juga memberikan petunjuk yang sejalan dengan larangan tersebut. Allah SWT, menjelaskan karakteristik ‘Ibadur Rahman, yaitu hamba-hamba Allah yang beriman, dalam firman-Nya:
وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ وَإِذَا مَرُّواْ بِٱللَّغۡوِ مَرُّواْ كِرَامٗا
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka melaluinya dengan tetap menjaga kehormatan diri.” (QS. Al-Furqan: 72)
Sebagian ulama, di antaranya Rabi’ bin Annas rahimahullah, menafsirkan kata az-zuur dalam ayat tersebut sebagai hari-hari besar atau perayaan kaum musyrikin. (Lihat Mukhtashar Al-Iqtidha’)
Berdasarkan penafsiran ini, sikap seorang mukmin terhadap perayaan kaum non-Muslim adalah tidak mengikutinya, melainkan menjauhinya dengan tetap menjaga kemuliaan dan jati diri sebagai seorang Muslim.
Termasuk dalam bentuk perayaan yang seharusnya dihindari adalah menghadiri acara tersebut atau sekadar ikut memeriahkan, misalnya dengan membeli terompet dan atribut perayaan lainnya. Perbuatan semacam ini bertentangan dengan petunjuk Al-Quran dan patut menjadi bahan renungan bagi keimanan seseorang.
Sikap bijak Muslim dalam menyikapi pergantian Tahun Masehi
Meskipun tidak merayakan tahun baru Masehi, seorang Muslim tetap dapat memanfaatkan momen pergantian tahun untuk melakukan berbagai aktivitas yang positif dan bernilai ibadah. Berikut beberapa kegiatan yang dianjurkan:
1. Muhasabah atau Introspeksi diri
Melakukan evaluasi terhadap amal dan perilaku selama satu tahun terakhir, menyadari kekurangan, serta bertekad memperbaiki diri di masa mendatang.
2. Memperbanyak doa dan zikir
Mengisi waktu dengan zikir, istighfar, dan doa kepada Allah SWT, memohon ampunan, perlindungan, serta keberkahan dalam menjalani tahun yang baru.
3. Melaksanakan shalat malam
Menghidupkan malam dengan shalat tahajud, baik secara berjamaah di masjid maupun sendiri di rumah, sebagai bentuk pendekatan diri kepada Allah.
4. Membaca dan merenungi Al-Quran
Memperbanyak interaksi dengan Al-Quran melalui membaca, tadarus, dan merenungi maknanya sebagai pedoman hidup.
5. Mengikuti pengajian atau tausiyah
Menghadiri majelis ilmu, pengajian, atau ceramah keislaman yang dapat menambah wawasan dan memperkuat keimanan.
6. Bersedekah dan berbuat kebaikan
Menyalurkan sedekah kepada fakir miskin, anak yatim, atau pihak yang membutuhkan sebagai wujud rasa syukur dan kepedulian sosial.
7. Mengisi waktu dengan aktivitas bermanfaat
Daripada menghabiskan malam dengan begadang tanpa manfaat, seorang Muslim dianjurkan melakukan kegiatan yang tidak bertentangan dengan syariat, seperti menulis rencana kebaikan, mempererat silaturahmi, atau melakukan aktivitas produktif lainnya.
Baca juga: Sambut Tahun Baru 2026, Tiket Diskon 30 Persen KAI Masih Tersedia di Sejumlah Relasi Favorit
Baca juga: 11 mitos larangan tahun baru yang dipercaya bisa pengaruhi nasib
Baca juga: Perayaan Tahun Baru Masehi menurut Islam, ini pendapat para ulama
Pewarta: Sean Anggiatheda Sitorus
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
















































