Oshin bersama papan selancar kesayangannya dengan dominan warna biru dan pink berjalan menuju ombak Pantai Parangtritis, Sabtu (31/1) sore. Harian Jogja - Kiki Luqman
Harianjogja.com, BANTUL—Gelombang kuat Pantai Parangtritis tak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga menempa peselancar cilik yang berlatih rutin menaklukkan ombak selatan, membangun mental, disiplin, dan keberanian sejak usia sekolah.
Sabtu sore (31/1/2026), papan selancar berwarna dominan biru dan pink tampak mencolok di antara keramaian wisatawan yang memadati kawasan Pantai Parangtritis. Di bawah cuaca cerah, papan itu berulang kali meluncur mengikuti gulungan ombak yang berada dalam pantauan Tim SAR Parangtritis.
Di atas papan tersebut berdiri sosok mungil yang berusaha menjaga keseimbangan di tengah arus yang tak pernah benar-benar tenang. Ia adalah Oshin Rossita Dewi, siswi kelas 1 SMP Negeri 2 Kretek, yang tubuhnya tampak kecil dibandingkan tinggi ombak yang datang silih berganti.
Beberapa kali Oshin terjatuh tersapu air, tetapi tak berselang lama ia kembali mendayung ke tengah, menanti gelombang berikutnya dengan tekad yang sama.
Ketertarikan Oshin pada olahraga selancar tumbuh dari kebiasaan melihat sang kakak berselancar di Parangtritis sejak ia kecil. Rasa ingin tahu itu perlahan berubah menjadi keseriusan, hingga dalam dua tahun terakhir ia rutin berlatih di pantai selatan tersebut.
“Dulu kakak juga surfing, terus ngajarin aku. Setelah nyoba, ternyata seru,” ujar Oshin.
Ia mengakui sensasi mengikuti irama ombak menjadi alasan utama ia terus kembali ke laut. Meski demikian, rasa takut tetap muncul, terutama ketika ombak datang lebih besar dari biasanya. Tantangan terbesarnya adalah menjaga keseimbangan saat berdiri di atas papan.
“Takut sebenarnya, tapi lama-lama bisa dan takutnya hilang,” katanya.
Tak jauh dari Oshin, Ramdan Nanggala Tama juga terlihat berlatih dengan semangat yang sama. Siswa kelas 4 SD Negeri 1 Kretek itu telah mengenal selancar sejak empat tahun lalu.
Awalnya, Ramdan hanya bermain di pantai. Namun, perkenalannya dengan olahraga ini bermula saat Tim SAR Parangtritis mengajaknya mencoba berselancar.
“Kayaknya 4 tahun mas, soalnya dari kelas 1 SD. Pertama kali diajarin sama tim SAR. Setelah itu nyoba sendiri, terus ketagihan,” ujar Ramdan singkat.
Sejak saat itu, pantai bagi Ramdan bukan sekadar tempat bermain, melainkan ruang belajar yang melatih keberanian sekaligus kedisiplinan.
Ketua Persatuan Selancar Ombak Indonesia (PSOI) DIY, Muhammad Aldhilla Mavie, menilai karakter ombak Pantai Parangtritis justru menjadi kekuatan utama dalam membentuk peselancar tangguh. Arus yang besar dan tenaga gelombang yang kuat menuntut kemampuan mendayung yang prima.
“Ombak di sini power-nya besar, arusnya kuat. Mau tidak mau surfer harus punya paddle yang kuat. Itu justru membentuk karakter surfer yang tangguh,” ujar Aldhilla.
Menurut Aldhilla, latihan memang tidak harus selalu dilakukan di Parangtritis. Peselancar tetap perlu mencoba karakter ombak di pantai lain untuk memperkaya teknik. Namun, Parangtritis dinilai berperan penting dalam membangun fondasi kekuatan dan insting membaca kondisi laut.
“Kalau sudah paham surfing, kita tahu jalur masuk dan keluar ombak. Skill membaca ombak itu penting,” katanya.
Kemampuan membaca ombak, lanjutnya, bukan hanya berguna dalam olahraga, tetapi juga berkaitan erat dengan aspek keselamatan di laut. Ia menyebut selancar secara tidak langsung mengajarkan pemahaman tentang arus, kondisi gelombang, hingga teknik dasar penyelamatan.
“Surfing itu membantu memahami kelautan. Kalau ada kejadian di laut, surfer biasanya lebih paham arah dan situasinya,” ujarnya.
Dari sisi pembinaan, Aldhilla melihat perkembangan komunitas selancar di Parangtritis menunjukkan tren positif. Saat ini, peselancar anak-anak justru mendominasi, menandakan proses regenerasi berjalan lebih cepat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.
“Sekarang anak-anak lebih mendominasi. Ini regenerasi yang bagus. Kalau untuk sekarang mungkin sudah ada sekitar 20 anak ikut main surfing,” katanya.
Sore itu, di tengah debur ombak dan riuh wisatawan, Oshin dan Ramdan kembali meluncur ke laut Parangtritis. Pantai selatan tersebut tak lagi hanya menjadi destinasi wisata Bantul, tetapi juga ruang pembinaan peselancar cilik yang terus tumbuh bersama karakter ombaknya.
Meta deskripsi: Peselancar cilik Parangtritis Bantul berlatih menaklukkan ombak selatan, membangun mental dan disiplin sejak usia sekolah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


















































