Mengenal diskalkulia, istilah kondisi anak sulit memahami matematika

1 month ago 16

Jakarta (ANTARA) - Pada sebagian anak-anak, matematika kerap dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Deretan angka dan simbol matematika terasa membingungkan dan sulit dipahami oleh mereka.

Kondisi ini bukan hanya soal malas belajar atau kurang latihan, melainkan bisa jadi merupakan diskalkulia, gangguan belajar yang diakui secara medis.

Bahkan, gangguan ini bisa muncul bersamaan dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), tetapi diskalkulia murni adalah gangguan belajar spesifik dan tidak termasuk gangguan mental.

Artinya, anak yang mengalami diskalkulia tetap memiliki potensi kecerdasan yang sama seperti anak lainnya.

Apa itu diskalkulia?

Diskalkulia adalah gangguan belajar yang ditandai dengan kesulitan memahami konsep berhitung dan matematika.

Menurut Keslan Kemenkes, kondisi ini berkaitan dengan cara kerja sistem saraf pusat yang berbeda, sehingga kemampuan mengolah angka menjadi terhambat.

Anak atau individu dengan diskalkulia biasanya mengalami kesulitan pada hal-hal yang tampak sederhana bagi orang lain.

Mulai dari mengingat urutan angka, nomor telepon, tanggal penting, hingga memahami perhitungan dasar seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

Mereka juga kerap kesulitan mengenali simbol matematika, memahami konsep waktu dan arah, membaca jam, hingga mengenali bentuk geometri.

Kesulitan ini bisa berdampak besar, sebab kemampuan berhitung menjadi dasar dalam pembelajaran matematika dan juga berperan penting dalam banyak aspek kehidupan sehari-hari.

Melansir laman Cleveland Clinic, juga dijelaskan bahwa diskalkulia terjadi karena perbedaan cara otak memproses informasi numerik, bukan karena rendahnya kecerdasan anak.

Akan tetapi, meski gejala umumnya muncul sejak masa anak-anak, tidak sedikit orang dewasa yang baru menyadari bahwa dirinya memiliki diskalkulia.

Bahkan, pada kasus tertentu, diskalkulia juga bisa muncul di usia berapa pun akibat kondisi medis tertentu.

Selain kesulitan akademik, diskalkulia bisa memicu dampak emosional, seperti rasa cemas, takut, atau stres berlebihan saat menghadapi pelajaran matematika.

Dalam beberapa kasus, tekanan ini juga bisa menimbulkan keluhan fisik seperti mual, berkeringat, hingga sakit perut.

Perbedaan diskalkulia dan disleksia

Diskalkulia dan disleksia sama-sama termasuk gangguan belajar, tetapi memiliki fokus yang berbeda.

Diskalkulia memengaruhi kemampuan numerik dan matematika, sementara disleksia berkaitan dengan kemampuan membaca dan bahasa.

Meski berbeda, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5) dari American Psychiatric Association menyebutkan bahwa keduanya berada dalam kategori diagnosis yang sama, dan sangat mungkin dialami secara bersamaan oleh individu.

Ciri-ciri diskalkulia pada anak

Tanda-tanda diskalkulia umumnya mulai terlihat saat anak berusia 6–9 tahun atau awal masuk sekolah dasar. Beberapa ciri-cirinya, antara lain:

  • Anak merasa cemas atau panik saat pelajaran matematika, bahkan menghindari permainan yang melibatkan angka.
  • Masih menggunakan jari untuk berhitung secara manual di saat teman sebaya lainnya sudah bisa menghitung di luar kepala.
  • Kesulitan memperkirakan dimensi, seperti tinggi benda, jarak, atau durasi waktu perjalanan.
  • Sulit menguasai perhitungan dasar seperti tambah, kurang, kali, dan bagi.
  • Bingung menghubungkan lambang angka (seperti '1') dengan penyebutan katanya ('satu').
  • Bingung saat menghitung nilai uang dan jumlah kembalian.
  • Sulit membaca jam analog, mengingat nomor telepon, atau memahami kombinasi angka.
  • Lemah dalam mengenali pola tertentu serta sulit mengikuti instruksi yang bertahap.
  • Sering tertukar saat melihat angka yang posisinya mirip, misalnya angka 75 yang terbaca 57.
  • Anak yang tampak paham mengerjakan soal matematika hari ini, namun keesokan harinya lupa total seperti tidak pernah mempelajarinya.

Baca juga: Akademisi Undiksha penyaji terbaik dalam konferensi IDEC di Malaysia

Baca juga: Yayasan Disleksia Bali bantu anak berkebutuhan khusus di Buleleng

Baca juga: JORR II tanggung jawab gangguan debu pada aktifitas belajar siswa

Pewarta: Putri Atika Chairulia
Editor: Alviansyah Pasaribu
Copyright © ANTARA 2025

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |