Lazio Tanpa Kompetisi Eropa, Era Lotito Pecah Rekor Buruk

3 hours ago 5

Jumali

Jumali Jum'at, 15 Mei 2026 12:57 WIB

Lazio Tanpa Kompetisi Eropa, Era Lotito Pecah Rekor Buruk

Skuad Lazio/Instagram: Lazio

Harianjogja.com, JOGJA— Musim 2025-2026 berubah menjadi salah satu periode paling menyakitkan bagi Lazio dan para pendukungnya. Kekalahan telak dari Inter Milan pada final Coppa Italia bukan hanya membuat klub ibu kota Italia itu kehilangan peluang meraih trofi, tetapi juga memastikan mereka kembali gagal tampil di kompetisi Eropa musim depan.

Bagi penggemar Lazio di Indonesia yang terbiasa melihat tim kesayangannya bersaing di Liga Champions atau Liga Europa, situasi ini menjadi kabar pahit. Lazio dipastikan menjalani dua musim beruntun tanpa pentas Eropa, sebuah kondisi yang terakhir kali terjadi lebih dari tiga dekade lalu.

Berdasarkan laporan Calcio e Finanza yang dikutip Football Italia, terakhir kali Lazio absen dari kompetisi Eropa dalam dua musim berturut-turut terjadi pada periode 1978-1979 hingga 1992-1993.

Catatan tersebut sekaligus menjadi rekor buruk baru pada era kepemimpinan Claudio Lotito. Sejak mengambil alih Lazio pada musim panas 2004, Lotito belum pernah mengalami situasi klub gagal tampil di Eropa selama dua musim berturut-turut.

Kondisi itu terasa kontras jika melihat perjalanan Lazio dalam dua dekade terakhir. Selama era Lotito, klub asal Roma tersebut sempat menikmati periode stabil dengan delapan musim beruntun tampil di kompetisi antarklub UEFA.

Dalam rentang itu, Lazio dua kali tampil di Liga Champions dan mampu menembus babak 16 besar pada kedua kesempatan. Namun langkah mereka selalu terhenti setelah berhadapan dengan raksasa Jerman, Bayern Muenchen.

Secara keseluruhan, Lazio tercatat delapan kali tampil di Liga Champions dalam 34 tahun terakhir. Klub berjuluk Biancocelesti itu juga sempat melaju hingga perempat final Liga Europa UEFA musim 2024-2025.

Prestasi terbaik Lazio di pentas Eropa terjadi pada 1999 ketika mereka sukses menjuarai UEFA Cup Winners' Cup dan Piala Super UEFA. Kini, pencapaian tersebut terasa sangat jauh ketika Lazio harus menatap musim depan tanpa jadwal kompetisi Eropa.

Kegagalan lolos ke Eropa diperkirakan tidak hanya memukul gengsi klub, tetapi juga berdampak langsung terhadap kondisi finansial dan stabilitas tim.

Situasi internal Lazio juga disebut masih penuh ketidakpastian. Masa depan pelatih Maurizio Sarri mulai menjadi sorotan setelah hasil buruk musim ini, sementara sejumlah pemain inti terus dikaitkan dengan kemungkinan hengkang pada bursa transfer musim panas mendatang.

Selain itu, hubungan antara skuad dan kelompok suporter disebut belum sepenuhnya membaik setelah rangkaian hasil mengecewakan sepanjang musim.

Bagi para pendukung Lazio, termasuk di Indonesia, periode ini menjadi ujian kesetiaan terhadap klub kesayangan mereka. Namun dalam sejarah sepak bola, fase keterpurukan kerap menjadi titik awal kebangkitan baru jika mampu dikelola dengan tepat.

Musim depan akan menjadi momentum penting bagi Lazio untuk membuktikan apakah mereka masih layak disebut sebagai salah satu kekuatan tradisional sepak bola Italia atau justru semakin tertinggal dari rival-rivalnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |