Jumali Jum'at, 18 September 2026 07:57 WIB
Harianjogja.com, JOGJA—Lagu “Ewe Paksa” dari Love & Chaos kembali menjadi perbincangan di media sosial setelah seorang pengguna Threads mengkritik liriknya yang dinilai menggambarkan kekerasan seksual sebagai bahan hiburan.
Lagu bergenre rock tersebut sebenarnya bukan rilisan baru. “Ewe Paksa” tercatat dirilis pada 11 September 2024 oleh Love & Chaos melalui Ruang Bahaya Records.
Perbincangan terbaru bermula ketika pengguna Threads dengan akun @telurrebusomega3 mengaku menemukan lagu tersebut secara tidak sengaja melalui YouTube Music saat sedang mencari lagu lain.
Unggahan yang dibuat pada Rabu (16/9/2026) itu kemudian menarik perhatian pengguna media sosial lain. Kritik terutama diarahkan pada isi lirik dan penggambaran hubungan seksual tanpa persetujuan.
Ditemukan Saat Mencari Lagu Lain
Pengguna Threads tersebut mengaku terkejut ketika algoritma YouTube Music justru memunculkan “Ewe Paksa” saat dirinya mencari lagu “Adela”.
“Judulnya jelek, liriknya jelek, lagunya jelek banget. Entah kenapa algoritma YouTube Music gue munculin ini pas lagi nyari Adela,” tulisnya, dikutip Jumat (18/9/2026).
Ia kemudian menyampaikan keberatan terhadap isi lagu yang menurutnya tidak seharusnya menjadikan pemerkosaan sebagai bahan candaan.
“Rape is not a fucking joke,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Unggahan itu kemudian menyebar dan memicu komentar dari pengguna lain yang memiliki keberatan serupa.
Lirik Menjadi Titik Utama Kritik
Sorotan warganet terutama tertuju pada narasi yang terdapat dalam lirik “Ewe Paksa”.
Lirik yang tersedia secara daring menggambarkan seorang tokoh laki-laki yang menginginkan hubungan seksual, sementara tokoh perempuan disebut menolak. Setelah itu, narasi berlanjut dengan tindakan seksual secara paksa dan pengulangan frasa yang menjadi judul lagu.
Bagian tersebut kemudian menjadi dasar kritik sejumlah pengguna media sosial. Mereka menilai penggambaran hubungan seksual tanpa persetujuan tidak semestinya ditempatkan sebagai materi hiburan tanpa konteks yang jelas.
Perdebatan tersebut bukan pertama kalinya lagu “Ewe Paksa” dikaitkan dengan isu representasi kekerasan seksual. Artikel Magdalene yang membahas representasi kekerasan seksual dalam musik juga pernah menggunakan lagu tersebut sebagai salah satu contoh pembahasan mengenai bagaimana kekerasan dapat direpresentasikan dalam budaya populer.
Audio Disebut Pernah Digunakan di TikTok
Perbincangan di media sosial juga melebar pada penggunaan potongan lagu sebagai sound di TikTok.
Sejumlah warganet mempertanyakan mengapa audio dengan lirik yang mereka nilai bermasalah dapat digunakan sebagai bagian dari konten hiburan di platform tersebut.
“Nggak banget ya kak, lagu-lagunya yang merendahkan atau sexualize women itu menjijikan sekali. Mana sound ini suka dipakai di TikTok, miris sekali,” tulis salah satu pengguna yang komentarnya ikut dikutip dalam perbincangan tersebut.
Komentar lain juga menyoroti isi lirik dan menyampaikan kritik terhadap pembuat lagu.
Namun, komentar warganet tersebut merupakan pandangan individu di media sosial dan tidak dengan sendirinya membuktikan maksud atau niat Love & Chaos ketika menciptakan lagu tersebut.
Sudah Didengar Jutaan Kali
Di tengah kontroversi, “Ewe Paksa” bukan lagu yang baru muncul di platform musik.
Apple Music mencatat lagu tersebut sebagai rilisan rock berdurasi sekitar dua menit yang dirilis pada September 2024.
Sementara itu, pemberitaan mengenai kontroversi terbaru menyebut lagu tersebut telah diputar sekitar 4,3 juta kali di salah satu platform streaming. Angka tersebut menunjukkan lagu telah memiliki jangkauan pendengar yang cukup besar sebelum kembali ramai dibahas pada September 2026.
Belum Ada Penjelasan dari Love & Chaos
Hingga pemberitaan mengenai kontroversi tersebut muncul, sorotan publik masih berpusat pada lirik “Ewe Paksa”, penggunaannya sebagai audio di media sosial, serta perdebatan mengenai cara kekerasan seksual direpresentasikan dalam karya musik.
Belum ditemukan keterangan dari Love & Chaos yang menjelaskan konteks, maksud, atau interpretasi resmi grup terhadap lirik lagu tersebut.
Dengan demikian, kontroversi yang berkembang saat ini terutama berasal dari respons pendengar dan pengguna media sosial terhadap isi lagu, bukan dari pernyataan resmi mengenai maksud pembuatnya.
Perdebatan tersebut sekaligus menunjukkan bagaimana karya musik yang telah dirilis beberapa tahun lalu dapat kembali memperoleh perhatian ketika potongannya ditemukan atau digunakan kembali di platform media sosial.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online
















































