Kisah Darmo, Tukang Salon Sapi yang Bertahan Puluhan Tahun

9 hours ago 6

Kisah Darmo, Tukang Salon Sapi yang Bertahan Puluhan Tahun

Foto Penjaja jasa salon sapi, Darmo Semin, 74, saat membenahi kuku sapi di Pasar Hewan Jelok Boyolali, Jumat (15/5/2026). (Solopos/Ni'matul Faizah)

Harianjogja.com, BOYOLALI — Menjelang Iduladha, cara unik dilakukan sebagian pedagang untuk mendongkrak nilai jual hewan kurban. Di Pasar Hewan Jelok, Cepogo, jasa “salon sapi” kembali jadi incaran, meski tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Di sudut sederhana pasar, tepatnya di sisi selatan pojok barat, seorang pria sepuh bernama Darmo Semin tetap setia menjalankan profesi yang telah digelutinya sejak puluhan tahun lalu.

Sentuhan Tangan Sepuh di Balik “Salon Sapi”

 Di dalam gubuk kayu sederhana miliknya, Darmo bekerja dengan peralatan seadanya—gergaji dan kikir. Satu per satu sapi yang datang diikat pada tiang, lalu tanduk dan kukunya dirapikan dengan telaten.

Meski usianya sudah 74 tahun, ketelitian Darmo tak luntur. Sesekali ia harus berjuang menjaga keseimbangan ketika sapi bergerak liar. Namun, ia tetap melanjutkan pekerjaannya, terkadang dibantu pemilik hewan untuk menenangkan sapi.

“Saya sudah membuka jasa ini sejak 1980-an. Dari dulu sampai sekarang tarifnya tetap Rp50.000 per ekor,” ujarnya, Jumat (15/5/2026).

Dari Ramai Jadi Sepi Pelanggan

Darmo mengenang masa ketika jasanya begitu diminati. Dalam sehari, ia bisa menangani hingga 20 ekor sapi. Kini, jumlah itu merosot tajam, hanya satu hingga tiga ekor per hari.

Ia mengaku tidak mengetahui pasti penyebab penurunan tersebut. Namun, ia menduga kualitas sapi yang kini lebih baik membuat kebutuhan salon sapi tak lagi mendesak.

“Mulai sepi sejak Iduladha tahun lalu. Mungkin sekarang sapinya sudah bagus-bagus,” katanya.

Meski begitu, Darmo tetap bertahan tanpa upaya promosi besar. Baginya, rezeki yang datang sudah cukup untuk menjalani hari-hari.

Strategi Pedagang Dongkrak Harga Jual

 Bagi sebagian pedagang, jasa salon sapi tetap punya nilai strategis. Salah satunya diungkapkan Sudar yang rutin datang ke Pasar Hewan Jelok.

Ia mengaku sengaja merapikan kuku sapinya agar terlihat lebih menarik di mata calon pembeli.

“Pembeli biasanya mengecek kuku dan tanduk. Kalau rapi dan bagus, mereka lebih tertarik,” ujarnya.

Menurutnya, tampilan sapi yang lebih bersih dan proporsional bisa mendongkrak harga jual hingga ratusan ribu rupiah.

Lebih dari Sekadar Perawatan

Fenomena salon sapi ini menunjukkan bahwa menjelang Iduladha, persaingan di pasar hewan tak hanya soal bobot dan kesehatan, tetapi juga penampilan.

Di tengah perubahan zaman, profesi seperti yang dijalani Darmo menjadi potret kearifan lokal yang masih bertahan—meski perlahan tergerus modernisasi.

Namun bagi Darmo, pekerjaan ini bukan sekadar mencari nafkah, melainkan bagian dari perjalanan hidup panjang yang telah ia jalani dengan penuh ketekunan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : espos.id

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |