
Kondisi akses Kelok 23 penghubung JJLS wilayah Gunungkidul-Bantul sudah jadi dan siap untuk dilintasi guna memecah kepadatan lalu lintas di jalur Jogja-Wonosari, Jumat (28/8/2026).Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Kelok 23 di Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) yang menghubungkan wilayah Gunungkidul dan Bantul tidak hanya disiapkan sebagai akses penghubung antarwilayah. Kawasan tersebut juga direncanakan dilengkapi tiga gardu pandang dan satu rest area untuk mendukung pengembangan wisata sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.
Kehadiran berbagai fasilitas tersebut membuat Kelok 23 berpotensi menjadi salah satu ikon wisata baru di sisi barat Gunungkidul. Terlebih, kawasan ini menawarkan pemandangan laut dari ketinggian yang dinilai menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Kelok 23 Gunungkidul Hampir Selesai
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto, mengatakan pembangunan Kelok 23 di perbatasan Gunungkidul-Bantul kini hampir rampung.
Menurut dia, pekerjaan yang tersisa hanya sedikit. Terlebih, terdapat informasi bahwa ruas tersebut akan mulai dibuka pada September 2026.
Rakhmadian juga mengaku telah meninjau lokasi pembangunan Kelok 23 bersama Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih beberapa waktu lalu.
Dia menilai keberadaan Kelok 23 memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi ikon wisata baru. Salah satu alasannya adalah kondisi geografis kawasan tersebut yang menyuguhkan panorama laut dari ketinggian.
“Bagus karena dari Kelok 23 bisa melihat pemandangan laut dari ketinggian,” kata Rakhmadian, Minggu (6/9/2026).
Ada Tiga Gardu Pandang dan Rest Area
Rencana pengembangan Kelok 23 tidak berhenti pada pembangunan akses JJLS yang menghubungkan Gunungkidul dengan Bantul. Pemerintah juga menyiapkan fasilitas pendukung untuk meningkatkan daya tarik kawasan tersebut.
Rakhmadian mengatakan nantinya akan dibangun tiga gardu pandang dan satu rest area. Konsep rest area tersebut disebut mirip dengan fasilitas yang telah dibangun di Kalurahan Nglindur, Kapanewon Girisubo.
“Rest area nanti berada di perbatasan. Sebagian masuk Bantul dan sebagiannya di wilayah Gunungkidul. Tujuan pembangunan agar warga di kedua wilayah bisa berusaha di rest area,” katanya.
Dengan konsep tersebut, rest area diharapkan tidak hanya menjadi tempat bagi pengguna jalan untuk beristirahat. Fasilitas tersebut juga diarahkan untuk memberikan ruang usaha bagi masyarakat di dua kabupaten yang berbatasan langsung di kawasan Kelok 23.
Meski demikian, Rakhmadian mengatakan pembangunan rest area bukan menjadi kewenangan Pemkab Gunungkidul. Fasilitas tersebut akan dikerjakan oleh Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional (PJN) yang menangani pembangunan JJLS.
“Kami belum tahu kepastian kapan akan dibangun, tapi di Kelok 23 akan dibangun rest area dan juga tiga gardu pandang,” katanya.
Kelok 23 Membentang 5 Kilometer
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih membenarkan bahwa ruas Kelok 23 akan dilengkapi dengan fasilitas rest area.
Dia menjelaskan total ruas Kelok 23 memiliki panjang sekitar 5 kilometer. Dari panjang tersebut, wilayah Gunungkidul mendapatkan bagian pembangunan sepanjang 1,9 kilometer, sedangkan bagian lainnya berada di wilayah Bantul.
“Lima kilometer ini, Gunungkidul mendapatkan bagian pembangunan Kelok 23 sepanjang 1,9 kilometer. Sedangkan, sisanya masuk wilayah Bantul,” kata Mbak Endah, sapaan akrabnya.
Menurut Endah, keberadaan rest area nantinya akan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Fasilitas tersebut direncanakan menyediakan gerai untuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Dengan adanya gerai UMKM, masyarakat sekitar diharapkan dapat memanfaatkan meningkatnya aktivitas pengguna jalan dan wisatawan yang melintas di Kelok 23.
Diharapkan Kurangi Kepadatan Jogja-Wonosari
Selain mendukung sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat, pembangunan Kelok 23 juga diharapkan memberikan dampak terhadap konektivitas lalu lintas di wilayah selatan DIY.
Endah berharap keberadaan ruas JJLS yang semakin tersambung dapat membantu mengurangi kepadatan kendaraan di jalur utama Jogja-Wonosari, terutama ketika terjadi peningkatan mobilitas wisatawan.
“Aksesnya mudah dan JJLS sudah benar-benar tersambung dengan selesainya pembangunan Kelok 23,” katanya.
Dengan tersambungnya JJLS melalui Kelok 23, jalur alternatif di wilayah selatan DIY semakin terbuka. Di sisi lain, keberadaan gardu pandang dan rest area dapat membuat kawasan tersebut tidak sekadar menjadi jalur transportasi, tetapi juga memiliki fungsi wisata dan ekonomi bagi masyarakat di perbatasan Gunungkidul-Bantul.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

















































