Hak Siar Piala Dunia 2026 Mandek di India dan Tiongkok

3 hours ago 2

Jumali

Jumali Kamis, 14 Mei 2026 11:17 WIB

Hak Siar Piala Dunia 2026 Mandek di India dan Tiongkok

Trofi Piala Dunia - ist/FIFA

Harianjogja.com, JOGJA— FIFA menghadapi tantangan besar menjelang pelaksanaan Piala Dunia 2026 setelah negosiasi hak siar di India dan Tiongkok belum menemukan titik temu. Situasi ini menjadi sorotan karena kedua negara tersebut merupakan pasar terbesar yang diharapkan menjadi motor pertumbuhan turnamen dengan format baru 48 tim.

Jika kesepakatan gagal tercapai, lebih dari sepertiga populasi dunia berpotensi tidak memiliki akses siaran resmi untuk menyaksikan seluruh pertandingan Piala Dunia 2026.

Turnamen yang akan berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu memang dirancang FIFA sebagai era baru sepak bola global.

Perluasan peserta dari 32 menjadi 48 tim diharapkan membuka peluang lebih besar bagi negara-negara besar seperti India dan Tiongkok untuk tampil di putaran final.

Namun, hingga kini hak siar seluruh 104 pertandingan di dua negara tersebut masih belum terjual.

Masalah utama berasal dari tingginya harga yang diminta FIFA.

Untuk India, FIFA sebelumnya meminta sekitar 100 juta dolar AS atau sekitar Rp1,75 triliun untuk paket hak siar Piala Dunia 2026 dan edisi berikutnya.

Sedangkan di Tiongkok, nilai yang diminta mencapai 250 hingga 300 juta dolar AS.

Meski FIFA sudah menurunkan harga, negosiasi masih berjalan alot.

Di India, nilai hak siar dilaporkan turun menjadi sekitar 35 juta dolar AS, tetapi penawaran tertinggi dari JioStar hanya berada di angka 20 juta dolar AS.

Penurunan tersebut sangat kontras dibanding kontrak sebelumnya.

Sony diketahui pernah membayar sekitar 90 juta dolar AS untuk hak siar Piala Dunia 2014 dan 2018.

Sementara Viacom18 mengeluarkan sekitar 62 juta dolar AS untuk Piala Dunia 2022 di Qatar.

Banyak pihak awalnya menilai selisih waktu menjadi penyebab utama.

Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Utara membuat banyak pertandingan dimainkan pada dini hari waktu Asia.

Namun, anggota Komite Eksekutif AFC sekaligus mantan Sekjen Federasi Sepak Bola India, Shaji Prabhakaran, menilai persoalan sebenarnya ada pada kondisi industri penyiaran olahraga India yang sedang melemah.

Menurutnya, minimnya persaingan membuat penyiar enggan mengambil risiko besar.

Saat ini pasar penyiaran olahraga India praktis hanya dikuasai JioStar dan Sony.

“Tidak ada persaingan nyata,” ujar Prabhakaran kepada The Guardian.

Selain itu, dominasi kriket di India juga membuat sepak bola sulit menarik investasi besar.

Bahkan Liga Premier India yang sangat populer disebut mengalami penurunan penonton hingga 26 persen musim ini.

Kondisi di Tiongkok juga tidak jauh berbeda.

Menurut FIFA, pasar Tiongkok menyumbang hampir 18 persen jangkauan televisi linear global Piala Dunia 2022 dan hampir 50 persen untuk platform digital.

Namun, CCTV sebagai pemegang hak siar tradisional hanya memiliki anggaran sekitar 60 hingga 80 juta dolar AS.

Jumlah itu masih jauh dari harga yang diinginkan FIFA meski sudah dipangkas menjadi sekitar 120 hingga 150 juta dolar AS.

Selain persoalan biaya, kegagalan Timnas Tiongkok lolos ke beberapa edisi terakhir Piala Dunia membuat minat publik ikut menurun.

Banyak penggemar muda di Tiongkok kini lebih memilih mencari siaran ilegal melalui internet dibanding berlangganan layanan resmi.

FIFA disebut telah mengirim delegasi tingkat tinggi ke Beijing untuk mempercepat negosiasi.

Sementara proses pembicaraan di India diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.

Situasi ini menjadi ujian besar bagi Presiden FIFA, Gianni Infantino.

Jika FIFA terus menurunkan harga mendekati turnamen, negara lain berpotensi melakukan strategi serupa pada masa mendatang.

Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, drama ini memperlihatkan bahwa Piala Dunia bukan hanya soal pertandingan di lapangan, tetapi juga bisnis media bernilai miliaran dolar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Jumali

Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |