Film Berlatar Jogja Menang di Cannes 2026, Kisah Yanto Pukau Dunia

3 hours ago 2

Film Berlatar Jogja Menang di Cannes 2026, Kisah Yanto Pukau Dunia

Film pendek berjudul VATERLAND or A Bule Named Yanto sukses meraih CANAL+ Award dalam ajang Cannes Critics’ Week 2026 yang berlangsung pada 13–21 Mei 2026 di Prancis. Ist

Harianjogja.com, CANNES — Perfilman Indonesia kembali menorehkan prestasi membanggakan di panggung dunia. Film pendek berjudul VATERLAND or A Bule Named Yanto sukses meraih CANAL+ Award dalam ajang Cannes Critics’ Week 2026 yang berlangsung pada 13–21 Mei 2026 di Prancis.

Karya sutradara Berthold Wahjudi ini menjadi salah satu dari dua film pendek terbaik yang mendapatkan penghargaan dalam program tersebut, mengungguli lebih dari 1.000 karya dari 106 negara.

Prestasi ini sekaligus menegaskan bahwa cerita lokal dengan pendekatan personal mampu menembus pasar global.

Kisah ‘Yanto’: Pencarian Identitas di Dua Dunia

Film ini mengangkat cerita Yanto, seorang pemuda keturunan Jerman–Indonesia yang kembali ke Jogja untuk menemui adiknya. Namun, perjalanan yang awalnya sederhana berubah menjadi refleksi emosional tentang identitas dan rasa memiliki.

Yanto justru merasa asing di tempat yang seharusnya menjadi bagian dari dirinya, sementara sang adik terlihat lebih mampu beradaptasi.

Narasi ini menggambarkan konflik batin individu berdarah campuran—tentang penerimaan, keterasingan, dan pencarian jati diri di antara dua budaya.

Dengan latar Jogja yang kuat, film ini menghadirkan nuansa lokal yang autentik sekaligus universal.

Produksi Lintas Negara, Didominasi Talenta Indonesia

Film ini merupakan hasil kolaborasi antara Aftersun Creative dan Madfilm.

Menariknya, mayoritas kru berasal dari Indonesia, sementara seluruh proses produksi dilakukan di Jogja—memberikan sentuhan lokal yang kental dalam setiap adegan.

Produser Annisa Adjam menyampaikan kebanggaannya atas pencapaian ini.

“Bisa membuat film berlatar di Jogja dengan perspektif minoritas, orang dengan kultur campuran seperti ini, lalu mendapatkan reaksi yang sangat baik dari penonton Cannes kemarin, menjadi pengalaman yang sangat berarti buat kami. Harapannya justru ini menjadi pembuka agar Yanto bisa terus berpetualang ke berbagai ruang menonton, khususnya di Indonesia dan berbagai negara lainnya," katanya melalui keterangan persnya, Kamis (21/5/2026).

Dari Cannes untuk Dunia, Jalan Terbuka Lebar

Film ini melakukan pemutaran perdana dunia (world premiere) pada 19 Mei 2026 sebelum akhirnya meraih penghargaan di malam penutupan.

Ajang Cannes Critics’ Week sendiri dikenal sebagai ruang bagi sineas pendatang baru untuk menampilkan karya terbaik mereka. Banyak film yang lahir dari program ini kemudian sukses menembus pasar internasional.

Kehadiran tim produksi, termasuk Annisa Adjam dan Bagus Suitrawan, juga menjadi langkah strategis untuk memperluas jaringan global perfilman Indonesia.

Momentum Kebangkitan Film Independen Indonesia

Keberhasilan VATERLAND or A Bule Named Yanto menjadi bukti bahwa film independen Indonesia memiliki daya saing tinggi di level internasional.

Tak hanya mengangkat cerita lokal, film ini juga membawa perspektif baru tentang identitas dan keberagaman yang relevan secara global.

Dengan capaian ini, Jogja kembali mengukuhkan posisinya sebagai ruang kreatif yang melahirkan karya-karya sinema berkualitas dunia—sekaligus membuka jalan bagi sineas muda Indonesia untuk melangkah lebih jauh di panggung internasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Abdul Hamied Razak

Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |