
Tugu Selamat Datang Gunungkidul. - ist
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL — Upaya memperkuat identitas budaya lokal terus didorong Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Bupati Endah Subekti Kuntariningsih mengajak para perajin untuk menghadirkan inovasi baru berupa motif batik tawon, sebagai simbol fauna khas daerah yang selama ini belum banyak diangkat.
Ajakan tersebut bukan untuk menggantikan motif yang sudah berkembang, melainkan memperkaya khazanah batik khas Bumi Handayani agar semakin dikenal luas. “Ini bukan mengganti motif yang ada, tetapi menambah variasi agar batik Gunungkidul semakin berkarakter,” ujar Endah, Minggu (24/5/2026).
Selama ini, motif belalang sudah lebih dulu populer dan menjadi identitas batik Gunungkidul. Namun, berdasarkan regulasi daerah, tepatnya Perda Nomor 3 Tahun 1999 tentang Flora dan Fauna, tawon atau lebah justru ditetapkan sebagai ikon fauna resmi Kabupaten Gunungkidul.
Melihat fakta tersebut, pemerintah daerah mendorong para perajin untuk mulai mengeksplorasi motif tawon dalam karya batik mereka. Langkah ini dinilai strategis untuk memperkenalkan kembali identitas daerah sekaligus memperluas nilai jual produk lokal di pasar yang lebih luas.
Tak hanya soal estetika, tawon juga menyimpan makna filosofis yang dalam. Hewan penghasil madu ini dikenal memiliki peran penting dalam ekosistem, terutama dalam proses penyerbukan yang membantu tanaman menghasilkan buah. Tanpa keberadaan tawon, keseimbangan alam dan ketahanan pangan bisa terganggu.
Selain itu, proses produksi madu yang membutuhkan kerja sama koloni menjadi simbol kehidupan sosial yang kuat. Tawon hidup berkelompok, saling membantu dalam membangun sarang, mencari makan, hingga melindungi diri dari ancaman. Filosofi ini dinilai sangat relevan dengan kehidupan masyarakat Gunungkidul yang menjunjung tinggi nilai gotong royong.
“Sebagai manusia, kita harus bisa meneladani semangat kebersamaan itu. Jangan kalah dengan tawon dalam hal kerja sama dan saling membantu,” kata Endah.
Dukungan terhadap gagasan ini juga datang dari Ketua DPRD Gunungkidul, Endang Sri Sumiyartini. Ia menilai pelestarian ikon daerah merupakan langkah penting untuk menjaga identitas sekaligus warisan budaya bagi generasi mendatang.
Menurutnya, pengembangan motif batik berbasis ikon lokal tidak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Inovasi motif diyakini mampu meningkatkan daya saing produk batik Gunungkidul di pasar nasional hingga internasional.
“Harapannya, pelestarian ini juga berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Dengan dorongan inovasi ini, batik Gunungkidul berpotensi memasuki babak baru—tidak hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai simbol identitas daerah yang kuat, sarat filosofi, dan bernilai ekonomi tinggi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online


















































