Astra Perkuat Desa Wisata Krebet, Dorong Regenerasi Perajin Batik Kayu

7 hours ago 3

Astra Perkuat Desa Wisata Krebet, Dorong Regenerasi Perajin Batik Kayu

Pengunjung saat belajar membatik kayu di Desa Wisata Krebet, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Bantul, Jumat (22/5)./ Harian Jogja/Kiki Luqman

BANTUL-Pendampingan yang dilakukan Astra Honda Motor terhadap Desa Wisata Krebet, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pajangan, Bantul mulai menunjukkan dampak bagi pengembangan usaha masyarakat. 

Tidak hanya promosi dan pelatihan, dukungan juga menyentuh kebutuhan produksi warga yang bergerak di sektor kerajinan hingga usaha rumahan.
Ketua Desa Wisata Krebet, Agus Jati Kumara, mengatakan kerja sama dengan Astra dimulai setelah Krebet masuk dalam program Desa Sejahtera Astra (DSA). 

Desa wisata Krebet terpilih setelah sebelumnya masuk dalam 50 besar ajang Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) dan kemudian menjadi satu dari lima desa wisata di Indonesia yang dibina Astra. “Kami mulai berkolaborasi sejak 2024. Dampak yang paling terasa itu bantuan alat produksi untuk masyarakat. Jadi bukan hanya promosi,” kata Agus, Jumat (22/5).

Menurutnya, dukungan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Warga yang memiliki usaha rumahan terlebih dahulu diminta mengajukan kebutuhan alat, kemudian bantuan diwujudkan dalam bentuk barang produksi. “Total bantuannya sekitar Rp240 juta. Wujudnya bukan uang tunai yang diterima masyarakat, tetapi berupa alat-alat yang memang dibutuhkan untuk meningkatkan kapasitas usaha,” ujarnya.

Bantuan yang diberikan cukup beragam, mulai dari mesin amplas, gerinda, alat potong, setrika untuk pelaku usaha batik, peralatan bengkel, hingga perlengkapan produksi makanan. “Usaha masyarakat sebenarnya sudah ada sejak lama, tetapi dengan tambahan alat produksi ini diharapkan hasil dan kapasitas produksinya bisa meningkat,” katanya.

Selain dukungan alat produksi, Astra Motor juga mengajak Desa Wisata Krebet mengikuti sejumlah kegiatan promosi di tingkat nasional.  Pada Februari 2026, Desa Wisata Krebet bahkan difasilitasi untuk berpameran skala besar di Jakarta guna memperkenalkan batik kayu yang menjadi ciri khas wilayah tersebut.

Berbasis Masyarakat

Agus menjelaskan Krebet selama ini dikenal sebagai desa wisata berbasis masyarakat atau Community Based Tourism (CBT). Seluruh pengelolaan dilakukan warga setempat, mulai dari pengelolaan homestay, kuliner, pemandu wisata hingga kegiatan edukasi.

Keunggulan utama desa tersebut berada pada kerajinan batik kayu yang berkembang sejak puluhan tahun silam. Menurut Agus, sejarah batik kayu di Krebet bermula dari eksperimen para perajin yang mencoba menggabungkan seni membatik dengan kerajinan kayu. “Batik biasanya diterapkan pada kain, tetapi di sini di media kayu. Dari cerita, batik kayu pertama lahir di Krebet sekitar 1988,” ujar dia.

Saat ini terdapat lebih dari 50 rumah produksi kerajinan di Krebet dengan sekitar 150 pelaku usaha masyarakat. Sementara pekerja yang aktif di sektor kerajinan diperkirakan mencapai sekitar 200 orang.

Adapun, Desa Wisata Krebet kini terus berupaya melibatkan generasi muda agar keberlangsungan tradisi tetap terjaga.
Selain mengembangkan kerajinan, Desa Wisata Krebet kini mulai mengarah pada konsep wellness tourism. Wisatawan tidak hanya melihat proses produksi, tetapi juga diajak merasakan pengalaman membatik secara langsung dan menikmati suasana desa. “Kami ingin pengunjung bukan sekadar datang lalu pulang, tetapi benar-benar merasakan pengalaman yang ada di desa ini.” (Adv))

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Ujang Hasanudin

Ujang Hasanudin Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online

Read Entire Article
Ekonomi | Politic | Hukum | Kriminal | Literatur | SepakBola | Bulu Tangkis | Fashion | Hiburan |